Monthly Archives: May 2010

Manusia dan Kegelisahan

Kegelisahan merupakan hal yang menggambarkan keadaan seseorang yang tidak tenteram hati dan perbuatannya, merasa khawatir, tidak tenang dan tidak sabar dalam tingkah lakunya, dan selalu merasa cemas.

Kecemasan merupakan salah satu bentuk kegelisahan. Menurut Sigmund Freud, seorang ahli psikoanalisis, terdapat tiga jenis kecemasan, yaitu kecemasan objektif, kecemasan neurotis (saraf) dan kecemasan moral.

Bila dikaji, sebab-sebab orang gelisah adalah karena pada hakekatnya orang takut kehilangan hak-haknya. Hal ini adalah akibat dari suatu ancaman, baik ancaman dari luar maupun dari dalam dirinya sendiri.

Contoh orang yang gelisah adalah para siswa kelas 3 SMA atau kelas 3 SMP pada saat hari pengumuman kelulusan Ujian Nasional. Mereka takut akan kehilangan haknya untuk dapat meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan Continue reading

Advertisements

Manusia dan Tanggung Jawab

Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Timbulnya tanggung jawab adalah karena manusia hidup dalam lingkungan alam. Manusia tidak boleh berbuat semaunya terhadap manusia lain dan terhadap alam lingkungannya.

Jika dilihat dari objeknya, ada beberapa macam tanggung jawab, yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri, tanggung jawab terhadap keluarga, tanggung jawab terhadap masyarakat, tanggung jawab terhadap bangsa dan negara, serta tanggung jawab terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Tanggung jawab terhadap diri sendiri contohnya bila seseorang mengidap suatu penyakit, maka ia minum obat secara teratur dan menjauhi pantangan-pantangan yang dapat menyebabkan penyakitnya bertambah parah.

Tanggung jawab terhadap keluarga contohnya Continue reading

Pengalaman Spiritual

Pengalaman spiritual menurut saya merupakan hal yang sangat pribadi dan sensitif untuk diperbincangkan. Namun, karena adanya tugas ini saya “terpaksa” untuk membeberkan sedikit pengalaman spiritual yang pernah saya alami. Tapi kata terpaksa di sini bukan berarti saya tidak ikhlas untuk membagikan pengalaman saya, tapi karena saya merasa kata-kata tidak akan mampu untuk mengungkapkan dalamnya pengalaman spiritual yang saya alami.

Pada saat saya mengundurkan diri dari sebuah Perguruan Tinggi Negeri terkemuka di Indonesia, saya merasa diri saya bagaikan seonggok sampah yang tidak ada harganya. Banyak orang-orang yang terus menerus menanyakan keputusan saya. Walaupun mereka tidak menghina ataupun merendahkan saya, tapi saya merasakan tekanan yang tinggi saat berhadapan dengan orang-orang.

Hal ini nyaris saja membuat saya hilang akal. Saya benar-benar merasakan kekalutan dan depresi yang dalam. Namun orang tua saya selalu mengingatkan saya untuk banyak-banyak beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Continue reading

Kebajikan

Kebajikan adalah suatu perbuatan baik yang sesuai dengan hati nurani. Kebajikan juga ditentukan oleh sudut pandang. Suatu hal bisa disebut kebajikan apabila masyarakat memandang hal tersebut sebagai suatu kebajikan, atau dengan bahasa sendiri saya menyebutnya “kebajikan kolektif”. Kebajikan kolektif merupakan cerminan bahwa suatu perbuatan tersebut secara langsung ataupun tidak langsung dianggap sebagai sesuatu yang baik oleh masyarakat pada umumnya.

Pengalaman akan kebajikan yang pernah dan sampai sekarang masih saya alami adalah tentang kejujuran. Bagi seseorang yang sedang menempuh pendidikan seperti saya, kejujuran itu adalah hal yang sangat penting, dan merupakan suatu kebajikan kolektif. Ibu saya dari kecil sudah mendidik saya untuk tidak mencontek pada saat mengerjakan ujian. Kata-kata ibu saya selalu terngiang di benak saya tidak hanya pada saat mengerjakan ujian, tapi juga pada saat mengerjakan tugas-tugas.

Sampai saat ini saya selalu berusaha mengerjakan semua tugas dan ujian sesuai dengan kemampuan saya, tanpa bantuan orang lain. Hal ini saya lakukan karena dorongan hati nurani saya, serta kata-kata ibu saya yang selalu terngiang di benak saya. Di samping itu, Continue reading

Cita-cita

Cita-cita adalah keinginan, harapan, dan tujuan yang ingin diwujudkan di masa yang akan datang. Apabila cita-cita tersebut tidak mungkin atau belum mungkin terpenuhi, maka cita-cita tadi barulah disebut angan-angan.

Di waktu kecil, sekitar usia 5 tahun saya sudah mulai berangan-angan untuk mencapai sesuatu. Waktu itu saya ingin sekali menjadi pelukis. Di setiap lembaran kertas kosong yang saya temukan, pasti saya akan mencoret-coretnya, mencoba untuk melukiskan sesuatu yang ada di pikiran saya. Dari situ saya mulai berpikir untuk menjadi seorang pelukis.

Namun, setelah beranjak remaja, sekitar usia 10 tahun, pikiran saya mulai banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Salah satu hal yang dipengaruhi adalah cita-cita. Dari pendapat orang tua serta teman-teman, saya mulai berpikir bahwa menjadi pelukis adalah suatu angan-angan yang konyol. Pada saat yang bersamaan saya mulai berkenalan lebih dekat dengan ilmu-ilmu pasti, seperti matematika dan IPA. Hobi saya menggambar mulai saya tinggalkan karena saya mulai asyik mendalami kedua mata pelajaran tersebut. Continue reading